Tekan Populasi Nyamuk DBD, Batan Kembangkan Serangga Mandul

Home, Megapolitan

Jakarta, Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi momok masyarakat, penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti banyak merengut korban jiwa. Karena itu Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) mengembangkan teknik serangga mandul guna mengurangi populasi nyamuk tersebut.

Tujuan dari teknik tersebut adalah menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan cara menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya. Meskipun terjadi perkawinan antara nyamuk jantan dengan nyamuk betina, namun tidak akan terjadi pembuahan. Dengan demikian, jumlah populasi nyamuk semakin lama akan semakin menurun.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto (foto: linda herawati)

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Djarot Sulistio Wisnubroto, TSM merupakan teknologi nuklir yang sudah lebih dari 50 tahun dipakai di seluruh dunia yang awalnya untuk melawan lalat buah, ngengat dan serangga pengganggu lainnya.

“Teknologi ini dikembangkan oleh Badan Tenaga Atom lnternasional untuk melawan penyakit berbasis virus yang dibawa nyamuk. Indonesia bersama Italia, China dan Mauritius dijadikan pionir untuk program ini,” ujanya pada media.

Dipilihnya teknik ini karena memiliki keunggulan antara lain, lebih murah, ramah lingkungan dan lebih mudah digunakan. Efektivitas penurunan populasi bisa mencapai 96,35 persen pada penyebaran nyamuk jantan minggu ke-empat, dapat menahan munculnya kasus baru di atas 7 bulan, dan dapat menghilangkan keberadaan virus yang dianalisis pada tubuh nyamuk setelah pelepasan kedua.

Teknik itu dikembangkan melalui Pusat Aplikasi lsotop dan Radiasi (PAIR) sudah melakukan penelitian TSM sejak tahun 2005. Pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015, Batan telah mengaplikasikan teknik tersebut di wilayah Jakarta, Salatiga, Tangerang dan Bangka Barat, dan hasilnya berhasil menurunkan populasi nyamuk secara signifikan.

“Dengan memanfaatkan TSM, diharapkan jumlah populasi nyamuk Aedes aegypti dapat diturunkan, serta dapat menekan biaya dan terhindar dari bahan kimia berbahaya sebagai bahan baku,” ujarnya.linda.

Leave a Reply