Peleton Beranting, Danyonmek 203/AK: Napak Tilas Perjuangan Jendral Soedirman

Home

Jakarta, inspiras1nusantara, Meneruskan tradisi dan amanat Jendral Besar Soedirman, prajurit Infanteri di lingkungan Kodam Jaya/Jayakarta melakukan napak tilas dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 30 kilometer.  Komandan Batalyon Mekanis 203/Arya Kemuning (203/AK) mengatakan, hal ini merupakan melihat kembali perjuangan Jenderal Besar Soedirman dalam melakukan perlawanan kembalinya pasukan Belanda, dengan cara napak tilas bergerilya melawan penjajah.

Demikian diungkap Letkol Inf. Bangun Siregar seusai pelepasan Peleton beranting etape I oleh Pangdam Jaya, Mayjen TNI Joni Supriyanto setelah upacara yang digelar di lapangan Mako Yonmek 203/AK. Menurutnya, di Kodam Jaya ada 10 Batalyon, masing-masing mendelegasikan satu pleton untuk mengikuti napak tilas tersebut.

“Ada nilai-nilai penting yang diambil dalam pelaksanaan ini yaitu pesan Jenderal Sudirman, menjadi prajurit itu panggilan hati nurani bukan karena sesuap nasi atau upah. Tapi bagaimana pengabdian pada bangsa dan negara ini, Indonesia tercinta”, tegasnya.

Dijelaskan, menjadi tentara itu ada tiga nilai, menjadi prajurit yang profesional, menjadi prajurit rakyat, dan prajurit sukarela untuk rakyat. Jadi menjadi prajurit itu harus rela bekerja untuk rakyat, barulah ia menjadi profesional.

Komandan Batalyon Mekanis 203/Arya Kemuning Letkol Inf. Bangun Siregar bersama pemuka agama. foto:linda herawati.

Dalam kegiatan ini, Peleton Beranting dibagi menjadi 9 etape dalam satu hari menempuh tiga etape, dan peleton berganti di setiap akhir etape atau setelah menempuh jarak sekitar 3 kilometer. Mereka tak hanya berjalan rapi dalam barisan, tapi juga berkomunikasi dengan masyarakat yang dijumpai dalam perjalanan, dan melakukan bakti sosial di akhir etape.

“Saat karya bakti di akhir etape, masyarakat diundang untuk melihat dari dekat prajurit yang sudah melakukan napak tilas. Ini juga agar masyarakat ikut merasakan bahwa mereka memiliki prajurit yang setiap saat bersama mereka”, jelasnya.

Ia melanjutkan, dahulu pun Panglima Besar Jenderal Soedirman seperti itu, melakukan perang gerliya tanpa bekal apapun. Apa yang dikonsumsi semua dari rakyat, napak tilas ini pun juga demikian mereka hanya membawa amanat jenderal Soedirman dan Sumpah prajurit Infanteri yang dikemas dalam ransel, dua senapan lara panjang, dan bendera Infanteri dan Kodam Jaya.

Peleton beranting ini akan berakhir di Rindam Jaya, di Condet, Jakarta Selatan, sekaligus perayaan hari Juang Kartika yang jatuh pada tanggal 15 Desember. Diakhir etape juga akan dilakukan kegiatan seperti bakti sosial dan bazar, yang menyatukan antara TNI dan rakyat.

Karena itu ia berharap, dengan dilaksanakannya Peleton Beranting akan ada kemanunggalan TNI dan rakyat, prajurit menunjukan keprofesionalannya berjalan kaki sekian kilometer secara estafet, disana lelahnya, disana daya juangnya. Disitulah rakyat bisa melihat bagaimana daya juang para prajurit, sehingga timbul rasa kemanunggalan itu bahwa prajurit dari rakyat untuk rakyat.linda.

Leave a Reply