Pasar Timbul Barat, Ada apa?

Home, Megapolitan

Jakarta masih terus mempercantik diri, gubuk liar di bantaran kali hilang, tanah kosong berubah jadi taman bermain, pasar tradisional disulap menjadi pusat perniagaan dua atau tiga lantai, banyak lagi perubahan lainnya demi menjelma sebagai kota megapolitan. Pasar tradisional memang masih ada, namun jumlahnya berkurang karena sudah menjadi pasar modern.

Pasar Timbul Barat di kawasan Tomang Tinggi, Jakarta Barat satu dari sekian pasar tradisional bakal menjadi pasar modern. Pasar yang berdiri sejak 1977 itu, akhirnya diratakan tahun 2014 sekaligus dibangun ulang. Pedagang pun dipindahkan ke penampungan sementara yang lokasinya masih di area pasar.

Penampungan sementara (TPS) ini hanya bergeser beberapa meter dari pasar, tepatnya di depan pasar alias di bahu jalan Tomang Tinggi Raya. Los pedagang pun hanya dibangun dengan balok dan kayu lapis yang disekat-sekat, karena memang rencana pembangunan pasar hanya memakan waktu tak lebih dari setahun.

114 pedagang ada di TPS tersebut, dan mereka dikenakan biaya perbulan antara 50 ribu hingga 200 ribu tergantung ukuran los yang mereka gunakan untuk berdagang. Menurut Ujang Kepala Koperasi Pasar (Kopas) Timbul Barat dari 114 sudah 80 pedang yang membayar dana pertama (DP) 20 persen dari harga kepemilikan tempat usaha di pasar yang tengah dibangun itu.

Setahun hingga lima tahun berjalan, pembangunan pasar baru rampung sekitar 60 persen, menurut Ujang, akhirnya pedagang geram dan demo menuntut pasar modern segera diselesaikan. Mereka juga khawatir dengan kondisi TPS yang alakadarnya. “Hujan kita kebanjiran, los pasar pun reyot benturan sedikit keras saja goyang karena kayunya sudah mulai lapuk. Bahkan saat demo itu semua kita beritahu, tapi tidak ditanggapi”, kilahnya.

Kekhawatiran pedang pun terjadi, awal Agustus lalu TPS itu ludes dilalap si jago merah, pedagang tak sempat menyelamatkan barang-barangnya. 114 pedagang mengalami dua kali kerugian, barang dagangan habis, tempat usaha tinggal abu, dan pasar Timbul Barat modern belum juga selesai.

Melihat kondisi itu, pihak pengelola pasar akhirnya mengijinkan para pedagang menempati los-los pasar di lantai dasar. Mereka pun dipersilahkan merenovasi los yang mereka tempati dengan biaya sendiri. Kondisi los para pedagang memang belum ada penutupnya, baru berupa sekat-sekat itu pun ada yang sudah ditembok tapi ada juga hanya tiang-tiang penyanggah tanpa sekat sama sekali.

Hendi Kepala Pasar Timbul Barat mengatakan, akibat kebakaran itu dan melihat kondisi saat ini ditengah ancaman Covid-19 sementara kebutuhan sehari-sehari harus dipenuhi. Kita pun mengijinkan pedagang menempati los-los yang ada. Bahkan kita tidak memungut iuran sama sekali, karena kondisi pasar belum memadai, aliran listrik juga belum ada. Namun sampai kapan iuran digratiskan ia enggan menjawab dan mengatakan hal itu kebijakan pusat.

Hal itu pun dibenarkan Ujang, selama menempati los pasar yang masih dalam tahap pembangunan mereka tidak dikenakan iuran sampai tiga bulan kedepan. Seandainya di bulan keempat pedagang dikenakan iuran, ia tegas mengatakan, kami akan menolak membayar karena bangunan pasar saja belum rampung dikerjakan.

Kini pihak pengelola pasar tengah membangun TPS baru, yaitu sisi kiri dan belakang pasar dikebut pengerjaannya. Nantinya para pedagang pindah ke TPS dan los pasar yang mereka tempati rencananya bakal diselesaikan pengerjaannya. Diharapkan 2021 “wajah baru” pasar Timbul Barat rampung dan menjadi kebanggaan masyarakat Tomang.apr/foto:istimewa.

Leave a Reply