Kurangi Impor, Batan Kenalkan Dua Varietas Kedelai Unggul

Home, Nasional

Jakarta, inspiras1nusantara, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengenalkan dua virietas kedelai unggul, hasil radiasi Isotop itu diyakini tahan dengan lahan kering. Selama ini petani kedelai kita belum mampu memasok kebutuhan pasar karena tingginya biaya produksi, dengan adanya varietas tersebut diharapkan petani kita mampu menghadapi kedelai impor.

Kepala Batan Prof. DR. Ir. Anhar Riza Antariksawan mengatakan, bibit unggul saja tidak cukup, tapi juga pendampingan selama petani melakukan budidaya. Penanaman dan pasca panen tidak dibimbing, ini juga mempengaruhi kualitas kedelai yang dihasilkan.

Dikatakan, dua varietas yang baru diperkenalkan ini merupakan produk yang ke-11 dan 12, sebelumnya Batan sudah mengenalkan 10 jenis kedelai hasil radiasi. Dua varietas itu diberi nama Kemuning 1 dan Kemuning 2. Masing-masing jenis kedelai itu punya ciri khas tersendiri, sedangkan Kemuning 1 dan 2 keunggulannya tahan di lahan kering.

“Jenis itu memang dilepas untuk menunjang program kedelenisasi pemerintah, kami ingin kedelai bisa juga ditanam di lahan kering yang tidak sama dengan lahan basah seperti persawahan. Sehingga kita menghasilkan kedelai yang tidak bersaingi dengan tanam pangan lain”, imbuhnya.

keterbatasan lahan optimal dan program pemerintah yang mendorong melakukan penelitian terhadap varietas kedelai yang toleran pada lahan kering. “Mengingat ketersediaan lahan optimal di Indonesia yang semakin terbatas, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendorong untuk melakukan penelitian terhadap varietas kedelai yang tahan di lahan kering”, tambahnya.

Kepala Batan dan Peneliti kedelai kenalkan dua varietas kedelai unggul.foto:linda herawati.

Kebutuhan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 2 juta ton pada tahun 2018. Dari kebutuhan tersebut, produksi kedelai lokal masih berada di bawah 1 juta ton per tahun, bahkan pada tahun 2017 menurut data Badan Pusat Statistik, produksi kedelai lokal hanya mencapai 786.142 ton. Untuk mencukupi kebutuhan terus meningkat tersebut, pemerintah memilih impor kedelai dari luar negeri.

“Varietas Kemuning yang tahan di lahan kering ini diharapkan dapat menjadi bagian solusi untuk meningkatkan produksi kedelai lokal dan mengurangi ketergantungan kedelai impor,” imbuhnya.

Varietas Kemuning mempunyai beberapa keunggulan diantaranya produktivitas tinggi yakni 2,87 ton/hektar untuk Kemuning 1 dan 2,92 ton/hektare untuk Kemuning 2, tinggi tanaman lebih pendek dari induknya sehingga tidak mudah rebah, mempunyai kandungan protein yang tinggi, ukuran bijinya yang besar, dan rasanya gurih.

“Kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 dapat beradaptasi dengan baik di lahan kering di Indonesia. Dengan ukuran biji yang lebih besar dan dapat bersaing dengan kedelai impor, kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 menghasilkan tempe yang lebih gurih dibandingkan dengan kedelai impor,” jelasnya.

Sebelumnya, BATAN telah menghasilkan varietas kedelai berbiji super besar, yakni Mutiara, yang cocok ditanam di lahan optimal. Sementara untuk Kemuning, tambah Yuliasti, termasuk berukuran biji besar dan merupakan varietas kedelai BATAN pertama yang toleran di lahan kekeringan.

Anhar mengatakan, sebagai lembaga litbang, pihaknya harus mampu membuat inovasi, yang salah satunya adalah di bidang pertanian. ” Sejauh ini bidang pertanian tetap menjadi salah satu unggulan dari Batan untuk terus dilakukan litbangnya,” katanya.

Namun yang perlu menjadi perhatian penting bagi Batan adalah sosialisasinya yang harus masif agar lebih dikenal masyarakat. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dimana masyarakat mendapatkan benih ungul tersebut.linda.

Leave a Reply