Hut Ke-70 TNI AU, Lahir dari Kerelaan Berkorban Tanpa Pamrih

Home, Matra

Jakarta inspiras1nusantara, Modal awal kelahiran Angkatan Udara adalah semangat juang dan kerelaan berkorban tanpa pamrih. Dengan peralatan dan alutsista yang sederhana TNI AU mampu berkiprah sebagai kekuatan perjuangan bangsa demi terciptanya kedaulatan bangsa. Demikian menurut Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna saat peringatan hari jadi ke-70 TNI AU, di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Peringatan hari jadi TNI AU bertema, “Dilandasi moralitas, integritas, profesionalitas dan militansi, TNI Angkatan Udara siap mengamankan wilayah dirgantara dalam rangka penegakan kedaulatan dan keutuhan NKRI”.

Tanggal 9 April merupakan momen historis paling membanggakan, karena awal keberadaan TNI AU di nusantara, lahir dari hasil perjuangan bersama komponen bangsa lainnya dalam meraih kemerdekaan, menjaga sekaligus menegakkan kedaulatan NKRI.

Dikatakan. Dimensi kedirgantaraan yang menjadi ruang pengabdian TNI AU, akan terus berkembang dengan spektrum yang semakin cepat, luas dan signifikan. Saat ini wilayah udara bukan lagi lahan kosong yang tidak lagi bermakna, tapi menjadi bagian wlayah yang menentukan bagi kedaulatan negara, kepentingan nasional dan kelangsungan hidup suatu bangsa.

“Hal itu mengandung arti bahwa, pemanfaatan dan penggunaan ruang udara merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi tercapainya kepentingan suatu negara. Demikian pula denan Indonesia”, tandas Kasau selaku inspektur upacara.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, satu pertiganya adalah daratan, dan dua pertiganya adalah lautan. Semua itu jarang dipahami secara utuh bahwa, luas wilayah yang dimiliki Indonesia tiga pertiganya adalah udara. Maka kekuatan udara menjadi penting yang harus dikelola bersama, agar mampu mengontrol seluruh ruang udara nasional. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, secara mutlak perlu didukung oleh kekuatan udara yang kapabel.

Mengutip pernyataan Presiden pertama Soekarno pada April 1955 mengatakan, kuasai udara untuk melaksanakan kehendak nasional, karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern.

Hal itu mengisyaratkan, perang di masa depan tak lepas dari kekuatan udara, air supremacy menjadi faktor penentu dalam memenangkan perang. Namun diperlukan kesinambungan kerjasama antar matra melalui cara multi domain integration.

Guna menyiapkan AU yang powerful dan bersinergi dalam multi-domain integration diperlukan pengawakan organisasi yang mampu menghadapi cyber war dan space war. Perkembangan iptek menjadikan alutsista udara rentan terhadap ancaman cyber warfare dan cyber defence, sehingga AU harus melengkapi kemampuannya untuk beradaptasi dalam semua level peperangan masa depan yang memadukan domain darat, laut, udara, dan cyber serta space.apr/foto:linda.

Leave a Reply