Bela Negara Siapapun Boleh, Kelompok Radikal pun Bisa Asalkan…

Home, Nasional

Jakarta, inspiras1nusantara, Belakangan ini Bela Negara menjadi perbincangan, termasuk pencopotan Dandim Lebak yang menyelenggarakan Bela Negara pada salah satu ormas tanpa ijin atasannya. “Kalau perlu yang radikal-radikal itu kita ajak, Bela Negara itu bukan pelatihan militer tapi pemahaman cinta bangsa dan negara”, ungkap Menhan.

Menanggapi pemberian materi Bela Negara pada salah satu ormas, Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan, sejak dua tahun lalu dirinya mensosialisasikan hal tersebut ke semua pihak. Bahkan dimanapun ia berkunjung menhan kerap menyinggung pentingnya Bela Negara untuk masyarakat.

UUD 1945 pasal 27 ayat 1 dan pasal 30 ayat 1 menyebutkan semua warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya membela negara. Hal itu dikuatkan dalam UU No.3 tahun 2002 yang mengatakan, setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan Negara.

Menhan bersama ketiga kepala Staf dan Sekjen Menhan (foto: linda herawati)

Menurutnya, Bela Negara itu, bagaimana pemahaman kita sebagai anak bangsa sama, bagaimana kecintaan kita pada bangsa dan negara sama. Dimana bela Negara berujung pada kecintaan kita pada negara, yang diwujudkan dengan kerja keras untuk bangsa dan negara.

“Bila perlu dia korbankan nyawanya untuk negaranya, itu ujungnya kecintaanya”, paparnya saat menggelar Rapim Kemenhan dan dihadiri Mendagri, Menkeu, Menteri PPN/ Bappenas dan Menteri BUMN, di Kemenhan, Jakarta.

Dikatakan, cinta itu tidak datang tiba-tiba tapi harus ada kebanggan terlebih dahulu, barulah terbit cinta. Pemahaman itulah yang terus menerus di sosialisasikan dirinya, mulai dari sekolah dari kelas 1 SD hingga mahasiswa, termasuk ormas dan lainnya. Didiberi pengertian bangga sebagai bangsa Indonesia, yang akhirnya  cinta bangsa dan negara.

merujuk pernyataan itu, jadi siapapun boleh mengikuti Bela Negara, mau pelajar, mahasiswa, ormas atau lembaga pemerintah atau swasta semua bisa ikut bela Negara. Tidak ada yang tidak boleh, asalkan pemberian materinya sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.

“Sekarang kalau kita berikan FPI dengan Pancasila dia mau, tidak ada masalah. Jadi yang dikatakan radikal itu akan larut. Kalau perlu yang radikal-radikal itu kita ajak, Bela Negara itu bukan pelatihan militer”, tandasnya.

Bahkan bukan hanya FPI, siapapun boleh, bahkan kelompok yang mendukung Isis sekalipun bisa, karena tujuan penyelenggaraan Bela Negara adalah menyatukan pemahaman cinta bangsa dan negara. “Efeknya kita bersatu kita buang pemahaman tidak benar, kita isi dengan pemahaman kita, kultur kita, apa itu? Pancasila”, kilahnya.linda.

Leave a Reply