Wujud PLTN Mendekati Nyata, Batan Ajukan Rancangan Detail Tekni

Home, Nasional

Jakarta, inspiras1nusantara, Langkah menuju anti “byar pet” listrik kian mendekati kenyataan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) setelah mengajukan desain reaktor PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklit) kini mengajukan desain detil teknik setelah dua tahun dari desain pertama yang diajukan. Dengan rancangan detil teknik itu, Batan mampu memangkas anggaran dari yang semula sekitar 4 Triliun Rupiah menjadi kurang dari satu Triliun Rupiah.

Kepala Batan, Djarot S. Wisnubroto didamping beberapa ahli Batan menjelaskan, kita dikejar waktu, sejak ijin tapak diberikan 2017 hingga 2021, dalam rentang waktu tersebut harus ada progress yang dikerjakan. Sehingga anggaran yang kita ajukan ke pemerintah bisa Kita yakini dengan adanya detil desain teknik.

Selain itu, menurutnya, pembangunan reaktor daya juga dibantu dengan adanya konsersium, nantinya beberapa perusahaan swasta lokal, asing dan BUMN ikut membantu pembangunan reaktor daya pertama anak bangsa.

Bukan hanya konsersium, tapi desain detail teknis inilah yang mampu Batan mendapat kepastian harga pembangunan reaktor daya. “Memang kalau mencontoh yang lain bisa, soal hitungan kenapa ketebalan ketel reaktor harus sekian itu tidak ada. Karena itu kita mempelajari hingga menemukan jawaban kenapa harus segitu ketebalannya”, ungkap salah satu teknisi yang mendampingi Kepala Batan.

Batan menyatakan, program pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang digagas sejak empat tahun lalu, kini telah memasuki tahapan detail desain dan telah mendapatkan izin tapak dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Status tersebut merupakan capaian tahapan terdepan untuk desain reaktor generasi IV dibandingkan dengan capaian negara lain di kawasan regional pada jenis reaktor yang sama.

Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto berbincang-berbincang.foto:linda herawati.

Reaktor generasi IV dipilih menjadi tipe RDE dengan alasan mempunyai teknologi keselamatan yang tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. RDE merupakan reaktor daya yang berkapasitas 10MWt atau setara dengan 3 Mwe, selain menghasilkan listrik juga akan difungsikan untuk proses desalinasi (mengubah air laut menjadi air tawar), produksi hidrogen, dan proses pencairan batubara.

“Capaian ini merupakan sebuah prestasi yang dicapai oleh BATAN melalui Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) dalam penguasaan teknologi nuklir khususnya dalam bidang reaktor. “BATAN melalui PTKRN telah melakukan kajian keselamatan dan teknologi reaktor, yang empat tahun terakhir ini telah meyelesaikan desain RDE, desain konversi reaktor Bandung dan ikut menjaga kinerja seluruh reaktor riset merupakan sebuah capaian tersendiri yang perlu disampaikan ke publik,” ujar Djarot. Saat launching Detail Desain Tahap Awal RDE di Kawasan Nuklir Serpong, Puspiptek, Tangerang Selatan.

Ia menegaskan, dari aspek perizinan, pengembangan detail desain RDE merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan persetujuan desain dari Bapeten. Secara formal, tahap persetujuan ini sudah diajukan sejak 27 Juli 2018 dengan mengirimkan sebagian dokumen yang dipersyaratkan yakni dokumen detail desain dan dokumen laporan analisis keselamatan, dan diharapkan mendapat persetujuan desain di tahun 2020 dan di tahun 2021 diharapkan izin konstruksi sudah didapat.

Pengembangan detail desain RDE menurut Djarot, melibatkan personil dari berbagai bidang keahlian diantaranya keselamatan dan safeguard nuklir, desain proses, mekanik dan pemipaan, instrumentasi dan kendali, elektrik, serta tapak dan sipil. Selain bidang teknis, dalam pengembangan ini juga melibatkan kemampuan di bidang aspek sosialisasi, persiapan infrastruktur dan ekonomi.

“Dalam pengerjaannya, BATAN bekerja sama dengan berbagai lembaga yaitu Kemenristekdikti, BPPT, ITB, IPB, Universitas Indonesia, dan Universitas Pertamina,” tambahnya.

Namun demikian, dalam pengerjaan pengembangan desain ini, Djarot mengakui menghadapi kendala yang mendasar yakni kurangnya ahli nuklir di Indonesia baik di pemerintahan maupun swasta yang mampu menjelaskan kemampuan Indonesia dalam penguasaan teknologi reaktor. “Sebagian kalangan di Pemerintah gamang terhadap program semacam RDE maka dengan label merah putih, affrodable dan didukung banyak pihak diharapkan tantangan tersebut bisa teratasi,” jelasnya.linda.

Leave a Reply