Wisata Historis, Biak Simpan Peninggalan Perang Pasifik

Gaya Hidup, Home

Jakarta, inspiras1nusantara, Alam Papua menyimpan banyak pesona, bukan hanya Raja Ampat atau salju abadi di puncak Jaya saja masih lokasi-lokasi eksotis disana. di Biak saja yang merupakan pulau terpisah dari Papua ada tempat yang patut kita kunjungi, terutama mereka yang gemah wisata sejarah.

Perjalanan menuju Biak tak sesulit bayangan kita, dari jakarta pun kita bisa langsung mendarat di sana, Bandara Frans Kaiseipo mampu didaratkan pesawat berbadan lebar. Tak jauh dari bandara itu juga ada Pangkalan Udara TNI AU, lanud Manuhua yang memiliki landasan terpanjang kedua se-Indonesia, sisa peninggalan perang Pasifik atau lebih dikenal Perang Dunia Kedua antara AS dan Jepang.

Begitu roda pesawat menyentuh landasan, mata kita dimanjakan pemandangan nan luar biasa, pemandangan laut biru yang menakjubkan. Kebetulan saat mengunjungi Biak bersama rombongan mendarat di Lanud manuhua, masih ada sisa bangunan peninggalan perang tersebut. Seperti kita ada di film serial pernah populer tahun 80-an “Tour of Duty” kisah perang Vietnam dari sisi AS.

Obyek wisata yang pertama kami kunjungi ialah Goa Jepang, bekas tempat perlindungan tentara Nippon saat perang Pasifik. Goa ini bukan goa buatan seperti umumnya goa Jepang di daerah-daerah lain, tapi goa alami yang terbentuk dengan sendirinya. Di langit-langit goa menggantung stalagtit yang menakjubkan.

Gua bekas tempat perlindungan tentara Jepang. foto: linda herawati.

Goanya besar sehingga mampu menghalangi cahaya matahari yang masuk, maka disekitar goa ditumbuhi lumut, di bagian atas ada pula lubang besar, kemungkinan terbentuk karena bom yang dijatuhkan pasukan AS yang mengetahui di lokasi tersebut tempat perlindungan Jepang.

Boleh jadi goa ini merupakan kuburan massal tentara Jepang, akibat bom AS. Di salah satu ruangan ada sekumpulan tulang belulang manusia menurut pemandu adalah tentara Jepang. Ada pula Artefak senjata, alat makan, seragam, hingga alat-alat pribadi seperti alat cukur, botol obat, dan lainnya juga tersimpan rapi di pusat informasi Goa Jepang.

Ada pula koleksi misil, bom, dan peluru yang dibentuk melingkari senapan otomatis yang dikeluarkan tahun 1940-an oleh Jepang. Koleksi itu sudah sangat berkarat terjajar tak jauh dari koleksi noken, tas anyam cantik yang dijual di toko oleh-oleh. Namun demikian situs bersejarah ini memiliki lokasi yang bersih, koleksi lengkap, dan tertata rapi.

Monumen Perang Dunia II

Satu tempat yang juga punya nilai historis  yaitu monumen Perang Dunia II letaknya langsung menghadap ke laut, konon kabarnya disinilah awal mula pasukan Sekutu mendarat di Biak. Di monumen ini terdapat kalimat bertulisan bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Ada juga bangunan unik berbetuk kubah.

Pesan yang tertulis  itu adalah ‘Monumen perang dunia ke II. Monumen untuk mengingatkan umat manusia tentang kekejaman perang dan segala akibatnya agar tidak terulang’. Pesan ini punya alasan,  jika kita telusuri monumen ini, maka akan menemukan lorong penyimpanan yang difungsikan sebagai museum kecil atau ruang koleksi.

Monumen Perang Dunia Kedua. foto:linda herawati.

Bukit Satu Hati

Sehari sebelum  mengunjungi lokasi historis kekejaman perang, kami mampir ke lokasi  bukit Satu hati, dekat dengan tempat kami bermalam. Di lokasi ini rombongan menyambut matahari terbenam. Tanah perbukitan yang masih dilingkungan Lanud Manuhua sengaja dijadikan tempat wisata bagi warga sekitar.

Dari atas bukit kita bisa melihat kota Biak, juga laut biru samudera pasifik, menanti prosesi matahari terbenam sebaiknya abadikan momen indah itu dengan latar semburat merah matahari sore dan birunya air laut.

Paham dengan hobi berfoto pengunjung, Komandan Lanud Manuhua, Marsma TNI Fajar Adriyanto membangun panggung atau menara kecil berbentuk hati dengan spot terbaik menyambut matahari terbenam. Foto yang dihasilkan hampir kebanyakan berbentuk siluet dan pancaran sinar matahari sore. Lokasi bukit ini masih di lingkungan lanud manuhua, Biak.linda.

Tagged

Leave a Reply