Satgas Perdamaian, Rindu itu Menguatkanku Bertugas di Negeri Orang

Home, Matra

Jakarta, inspiras1nusantara, Sulit menggambarkan rasa rindu yang mendalam, apalagi saat tugas memanggil guna menjaga perdamaian dunia. Satgas RDB 39A. Kongo baru saja menginjakan kaki di tanah air, seusai bertugas di Kongo, dimana negeri ‘berlian’ ini terus dilanda konflik antara milisi bersenjata dengan pemerintah sah. Hampir seluruh personel Satgas RDB sulit ‘membungkam’ rasa rindu dengan orang-orang terdekat, meski tugas menjaga perdamaian banyak diisi dengan kontak langsung dengan warga setempat. Tapi rindu itu makin mendalam.

Sebelum ditugaskan ke Kongo, seluruh personel Satgas harus lolos seleksi untuk menjadi personel Satgas Perdamaian. Banyak tahap yang harus mereka lalui untuk menjadi bagian dari misi perdamaian PBB, diantaranya adalah lolos psikotes, sehat jasmani dan rohani, menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris, serta bisa mengemudi.

Mengemudi jadi kemampuan ‘wajib’ yang harus dimiliki Satgas RDB, karena begitu mereka berada di medan tugas PBB akan membekali mereka dengan Surat Izin Mengemudi (SIM), karena itu mengemudi wajib dikuasai personel Satgas Perdamaian.

Satgas RDB 39A bersama anak-anak Kongo saat patroli.

Pemerintah melalui TNI tak mau begitu saja mengirim satgas, sebelum berada di negara orang seluruh anggota Satgas ditempa selama setahun di Pusat Misi Pemelihara Perdamaian (PMPP) dengan latihan, latihan, dan latihan. Jika lolos sebagai anggota Perdamaian, barulah mereka ditempat di negara yang dilanda konflik berkepanjangan.

Kapten Caj (K) Santi Kristiani, S.Pd, Dantim FET (Female Engagement Team) merangkap French interpreter mengungkapkan, bila tugas negara memanggil sedalam apapun rindu dengan keluarga bisa diatasi. Karena kegiatan kita di sana lebih banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat setempat.

Ia mengatakan, tugas mereka sebagai pemelihara perdamaian, lebih pada melindungi masyarakat sipil. Konflik antara milisi bersenjata dengan angkatan bersenjata pemerintah Kongo membuat warga di daerah konflik cemas. Untuk itu, satgas RDB melakukan pendekatan humanis, seperti pelayanan kesehatan, mengajari anak-anak dan komunikasi dengan masyarakat agar mereka punya semangat dan melupakan konflik.

Kegiatan seperti itulah yang membuat dirinya sedikit melupakan rindu dengan keluarga, meski demikian jika usai bertugas ia menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarga yang sangat ia sayangi. “sayangnya, waktu Kongo dan Indonesia berbeda 5 jam, saat saya telepon di Indonesia sudah tengah malam. Bukan itu saja sinyal telepon seluler tidak stabil, suara delay, kadang malah beradu suara dan tidak suara sama sekali”, tambah personel Satgas RDB dari Kodam IV Diponegoro.

Serma Rum/W Khoti Fatchuroh Amd. Kep (kiri), Kapten Caj Deliyana Yudha Negara, S.Psi (tengah), dan Kapten Caj (K) Santi Kristiani, S.Pd (kanan).foto:linda herawati.

Mengetahui kendala itu, dan rindu makin ‘menjadi’, akhirnya ia punya solusi melakukan sambungan dengan orang-orang tersayang dengan video call. Saking rindunya, keluarga yang di Indonesia tak boleh bicara, ia cukup melihat orang-orang kesayangan lewat telepon seluler dan rindu itu ‘terbayar’.

Lain lagi pengalaman Serma Rum/W Khoti Fatchuroh Amd. Kep Bintara Kesehatan, anggota Lantamal IV Tanjungpinang, nenurutnya, rindu itu membuatnya menangis, padahal sebelum menjadi anggota Satgas RDB serindu apapun dirinya tak pernah mengeluarkan air mata. Jika ada kesempatan berkomunikasi dengan keluarga, ia melakukan hal yang sama dengan Dantim FET, video call tanpa suara.

Sementara tugas yang ia emban di Kongo di bidang kesehatan sesuai dengan keahlian yang ia miliki, ia bersama tim kesehatan Satgas RDB acap kali menggelar pengobatan masal di distrik dimana Satgas Perdamaian di tempatkan.

Sedangkan Praka David Timur personel Satgas RDB anggota Wing I Paskhas, bertugas di Kongo memperkaya pengalamannya meski rindu keluarga ‘menyelimuti’ dirinya. Ia pun berbagi pengalaman dengan inspiras1nusantara di pusat latihan PMPP sambil menanti kedatangan rekan Satgas yang lain. Kepulangan mereka ke tanah air dibagi empat kelompok terbang, dirinya bersama Kapten Caj (K) Santi Kristiani, dan Serka Khoti merupakan bagian dari kloter ketiga.

Menurutnya, warga di sekitar daerah operasi punya kesan berbeda dengan Kontingen Garuda dibanding Satgas dari negara lain. Awalnya warga disana masih menyangka Satgas Perdamaian asal Indonesia dari negara lain yang sebelumnya bertugas disana. Dengan pendekatan humanis layaknya komunikasi sosial yang biasa dilakukan prajurit TNI di Indonesia, akhirnya mereka tahu bahwa Satgas RDB yang mereka ajak berkomunikasi asal indonesia.

Begitu dekatnya personel Satgas RDB dengan masyarakat lokal, saat mereka patroli pun puluhan anak-anak mengerumuni bahkan tak jarang mereka mengikuti satgas berpatroli. Kedekatakan prajurit Indonesia dengan warga lokal melalui rasa kemanusian, mereka iba dengan kondisi yang dialami masyarakat Kongo. Jika saja memberi makanan atau permen diperbolehkan, personel Satgas RDB akan memberi mereka, sayangnya hal itu dilarang PBB baik memberi maupun menerima.

Larangan itu terus diingatkan Komandan Satgas berulang kali baik saat masih di tanah air maupun ketika bertugas di Kongo. Jika melanggar bukan hanya membayar denda sekitar 30 ribu Dolar dan sanksi administrasi, hal itu bisa mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia sebagai satgas Perdamaian dunia yang selalu dinanti negara-negara yang dilanda perang saudara.

Sebagai anggota Satgas RDB, David kerap kali diberi sesuatu oleh warga lokal, bahkan dirinya pernah dipaksa menerima berlian pemberian warga setempat. Karena ingat pesan Komandan Satgas, ia menolak pemberian itu.

Rasa kemanusian Satgas RDB melihat warga lokal mengkonsumsi singkong tanpa dimasak atau dimakan mentah-mentah, mereka mengajarkan bagaimana mengolah singkong menjadi aneka kudapan seperti lemet, getuk, atau singkong rebus. Meski sudah diajari cara mengolah singkong jadi aneka makanan, begitu Satgas pergi mereka kembali ke kebiasaan sebelumnya, makan singkong mentah.

Hal itu diamini Pratu Hajar Dwi rekan satu timnya di Satgas RDB yang merupakan anggota Yonif 511 Kodam V Brawijaya. Dirinya tak tega melihat warga disana mengunyah singkong mentah, ia sering kali melihat hal itu terutama anak-anak yang ia jumpai saat patroli.

Jika diberi pilihan tugas di tanah air atau menjadi Satgas Perdamaian, keempatnya menjawab serempak meski ditemui di tempat terpisah, memilih menjadi Satgas Perdamaian. Dengan alasan bisa mempelajari bahasa dan budaya negara dimana mereka bertugas, tambah wawasan, pengalaman baru sebagai prajurit TNI. Meski rindu dengan orang terdekat, karena rindu itulah yang membuat mereka tegar dan semangat bertugas di negara yang mengalami konflik. Mereka berangkat tugas selamat kembali pun selamat karena ada orang-orang tercinta menanti di tanah air.apr/foto:pensatgasrdb39A.

Leave a Reply