Pusdikkav Bukan Hanya Cetak Prajurit Mahir Berkuda Tapi juga Ajarkan Kuda Merayap

Home, Matra

Jakarta, inspiras1nusantara, TNI Angkatan Darat tak pernah meninggalkan atau melupakan pelopor Kesatuan masa lalu, meski di era modern keberadaan Kesatuan tersebut dinilai usang. Kavaleri Berkuda adalah Kesatuan pelopor atau pemula, keberadaan kuda kini tergantikan oleh kendaraan tempur seperti tank dan panser. Namun pasukan berkuda masih dipertahankan dan keahlian menunggang kuda pun diajarkan ke prajurit TNI AD.

Prajurit profesional bukan dilahirkan tapi dibentuk di pusat pendidikan, personel militer bukan sekedar ahli menembak dan baris berbaris tapi mereka juga dibekali kemampuan khusus sesuai dengan Kecabangannya. Semua prajurit TNI tak canggung memegang senjata dan kompak dalam baris berbaris tapi tak semua prajurit TNI handal dalam menunggang kuda bahkan mengajak berenang bareng dalam kondisi terkepung air.

Keahlian menunggang kuda dan memerintahkan tunggangan jalan merayap (tiarap) itu yang diajarkan Pusat Pendidikan Kavaleri Kodiklatad di Cimahi, Jawa Barat. Danpusdikkav Kodiklatad Brigjen TNI Taufik Budi Santoso mengatakan, sejarah pembentukan Kavaleri dimulai dengan pasukan berkuda, kenapa menunggang kuda masih diajarkan di pusat pendidikan tersebut, karena Angkatan Darat yakin kuda masih sangat dibutuhkan saat ini dan di masa mendatang.

“Karena sejarah itu maka kita masih mempertahankan, dan beberapa wilayah di Indonesia tak semuanya bisa didatangi tank atau kendaraan tertentu, kuda masih sangat dibutuhkan di beberapa momen tertentu. Jadi apa yang kita punya masih kita pertahankan, dan semua pusat pendidikan harus dimulai dari kavaleri”, tandasnya.

Prajurit siswa Pusdikkav asal Papua, ia satu, satunya putera asal bumi cendrawasih di Kesatuan Kavaleri.foto:linda herawati.

Uniknya, siswa yang menimba ilmu di Pusdikkav tidak dilihat dia Kepangkatan, semua wajib belajar menunggang kuda baik itu Tamtama, Bintara maupun Perwira. Karena mahir berkuda bukan perkara mudah, begitu melihat kuda langsung bisa menunggangi, harus ada tahapan agar handal dalam berkuda.

Menurutnya, selain melatih prajurit agar mahir di atas pelana, Pusdikkav juga melatih kuda itu sendiri, kuda militer berbeda dengan kuda pada umumnya. Hanya di Pusdikkav lah kuda bisa berjalan merayap dan renang. Melatih kuda militer pun harus beberapa tahap, mulai dari remonte dasar hingga remonte lanjutan.

Selain melatih kuda militer, Pusdikkav juga melatih kuda untuk umum, namun melatih kuda orang kebanyakan mereka menggandeng Pordasi setempat. Dan hasil didikan pusat pelatihan Kavaleri ini sudah banyak mencetak kuda juara serta atlet profesional di cabang olahraga berkuda.

Saat Dispenad mengajak media berkunjung ke Pusdikkav, kami merasakan sulitnya menunggang kuda, selain kudanya tinggi besar kami kesulitan mengendalikan kuda sesuai keinginan kita ke kanan atau ke kiri bukan penunggang yang mengendalikan tapi kuda yang membawa kita berlari.

Pusdikkav juga jadi kebanggaan prajurit asal timur Indonesia, satu dari sekian ratus prajurit TNI AD yang dididik di sana bangga karena dia satu-satunya prajurit Asal Papua yang ber-baret hitam, ciri khas Satuan Kavaleri. Ia pun diangkat sebagai ketua senat di Pusdikkav, karena kepandaianya dan piawa dalam mengolah bola kaki.

Kesatuan Kavaleri juga kebanggaan putera asal Kupang dan Ambon, keduanya bangga di kepala mereka tersemat baret hitam, karena secara tak langsung mereka sudah dianggap mahir berkuda, meski mereka masih menempuh pendidikan di Pusdikkav. Prajurit berkuda tak tergantikan meski teknologi semakin modern, patroli berkuda sama saja menjaga keberlanjutan kuda, hewan ini tak mungkin punah selama pasukan berkuda tetap bertahan.linda.

Leave a Reply