Batan Jadi Pusat Pelatihan Dunia, Hasilkan Tanaman Pangan Unggul

Home, Nasional

Jakarta, inspiras1nusantara, Badan Tenaga Nuklir Nasional menjadi pusat penelitian terkait radiasi nuklir dibidang pangan khususnya negara di Asia dan Afrika. Selain itu, Batan juga bekerjasama dengan FAO Badan Pangan Dunia guna mengembangkan kedelai terkait dengan kemandirian pangan.

Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto mengatakan, para peneliti muda dari negara-negara Asean tak perlu lagi pergi jauh, cukup di Indonesia mereka bisa menimba ilmu terkait rekayasa genetika tumbuhan. Dan ini juga membantu pihak Kementrr

Jakarta, inspiras1nusantara, Badan Tenaga Nuklir Nasional menjadi pusat penelitian terkait radiasi nuklir dibidang pangan khususnya negara di Asia dan Afrika. Selain itu, Batan juga bekerjasama dengan FAO Badan Pangan Dunia guna mengembangkan kedelai terkait dengan kemandirian pangan.

Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto mengatakan, para peneliti muda dari negara-negara Asean tak perlu lagi pergi jauh, cukup di Indonesia mereka bisa menimba ilmu terkait rekayasa genetika tumbuhan. Dan ini juga membantu pihak Kementreian Luar Negeri dalam menjalin kerjasama negara-negara dunia ketiga atau Selatan-selatan.

Menurutnya, saat ini ada beberapa peneliti asal Tanzania yang tengah menimba ilmu di pusat penelitian, Batan di kawasan Pasar Jumat, Jakarta. Batan dianggap sebagai negara atau institusi yang sudah maju dalam pemanfaatan teknologi nuklir.

Sementara terkait pengembangan kedelai lokal guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, menurutnya, ada 10 varietas kedelai produksi Batan, ini bisa dimanfaatkan petani dan yang penting adalah tempe yang menggunakan kedelai lokal.

“Ini masalahnya bukan karena kedelai Batan digunakan untuk membuat tempe,tapi bagaimana memotivasi petani untuk menanam kedelai dari sisi pendapatan dibanding tanaman lain. Inilah bagaimana menyemangati petani untuk menanam kedelai agar mengurangi ketergantungan dari produksi luar”, kilahnya.

Sedangkan Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat menjelaskan, melalui aplikasi teknologi nuklir, Indonesia telah menghasilkan banyak varietas unggul mutan tanaman penting seperti padi, kedelai, sorgum, kacang hijau, kacang tanah, kapas, dan gandum tropis. Varietas unggul tanaman tersebut telah disebarluaskan dan ditanam oleh masyarakat petani dan telah memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan produksi dan ketahanan pangan Indonesia.

“Kesuksesan Batan yang telah melepas banyak varietas unggul mutan tanaman, kini menjadi perhatian khusus dalam mempromosikan penggunaan teknologi nuklir bagi kesejahteraan masyarakat di berbagai kalangan seperti petani, pejabat pemerintah, pelajar/mahasiswa dan akademisi,” tambahnya.

Karena keberhasilan itulah, menjadikan Batan sebagai tempat tujuan pelatihan internasional bagi peneliti di bidang pemuliaan mutasi tanaman. Beberapa negara yang telah mengikuti pelatihan di Batan antara lain, Bangladesh, Burkina Faso, Cambodia, China, India, Korea Selatan, LAO P.D.R, Madagascar, Malaysia, Mongolia, Mozambique, Myanmar, Namibia, Nepal, Pakistan, Philipina, Sri Lanka, Tanzania dan Vietnam. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah di masa mendatang, apalagi setelah BATAN mendapatkan penghargaan Outstanding Achievement Award on Plant Mutation Breeding dari IAEA pada bulan September 2014 lalu.linda.

ian Luar Negeri dalam menjalin kerjasama negara-negara dunia ketiga atau Selatan-selatan.

Menurutnya, saat ini ada beberapa peneliti asal Tanzania yang tengah menimba ilmu di pusat penelitian, Batan di kawasan Pasar Jumat, Jakarta. Batan dianggap sebagai negara atau institusi yang sudah maju dalam pemanfaatan teknologi nuklir.

Sementara terkait pengembangan kedelai lokal guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, menurutnya, ada 10 varietas kedelai produksi Batan, ini bisa dimanfaatkan petani dan yang penting adalah tempe yang menggunakan kedelai lokal.

“Ini masalahnya bukan karena kedelai Batan digunakan untuk membuat tempe,tapi bagaimana memotivasi petani untuk menanam kedelai dari sisi pendapatan dibanding tanaman lain. Inilah bagaimana menyemangati petani untuk menanam kedelai agar mengurangi ketergantungan dari produksi luar”, kilahnya.

Sedangkan Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat menjelaskan, melalui aplikasi teknologi nuklir, Indonesia telah menghasilkan banyak varietas unggul mutan tanaman penting seperti padi, kedelai, sorgum, kacang hijau, kacang tanah, kapas, dan gandum tropis. Varietas unggul tanaman tersebut telah disebarluaskan dan ditanam oleh masyarakat petani dan telah memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan produksi dan ketahanan pangan Indonesia.

“Kesuksesan BATAN yang telah melepas banyak varietas unggul mutan tanaman, kini menjadi perhatian khusus dalam mempromosikan penggunaan teknologi nuklir bagi kesejahteraan masyarakat di berbagai kalangan seperti petani, pejabat pemerintah, pelajar/mahasiswa dan akademisi,” tambahnya.

Karena keberhasilan itulah, menjadikan Batan sebagai tempat tujuan pelatihan internasional bagi peneliti di bidang pemuliaan mutasi tanaman. Beberapa negara yang telah mengikuti pelatihan di BATAN antara lain, Bangladesh, Burkina Faso, Cambodia, China, India, Korea Selatan, LAO P.D.R, Madagascar, Malaysia, Mongolia, Mozambique, Myanmar, Namibia, Nepal, Pakistan, Philipina, Sri Lanka, Tanzania dan Vietnam. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah di masa mendatang, apalagi setelah BATAN mendapatkan penghargaan Outstanding Achievement Award on Plant Mutation Breeding dari IAEA pada bulan September 2014 lalu.linda.

Leave a Reply